
Sebentar
lagi kita menghadapi tahun baru Islam 1413 H yang bertepatan dengan
tanggal 18 Desember 2009. Terkait dengan hal ini, sudah selayaknya kita
sebagai umat Islam memaknai tahun baru ini sebagai momentum untuk
introspeksi dan perbaikan diri di masa depan. Mari kita bertanya pada
diri sendiri, apakah amalan ibadah yang telah kita lakukan selama
ini sudah optimal dan sesuai dengan tuntunan Islam? Selanjutnya apa yang
akan kita lakukan di masa yang akan datang agar kita menjadi lebih baik
lagi.
Proses introspeksi ini sangatlah penting kita lakukan, setidaknya ada tiga hal yang melatarbelakanginya yaitu sebagai berikut:
Pertama, Proses evaluasi merupakan sesuatu yang jarang dilakukan oleh setiap orang
Ketika kita menyambut tahun baru, biasanya kalimat yang terucap ialah ”
Walaah ngak tarasa yaah…kok sudah tahun baru lagi…”. Hampir
sebagian besar orang Islam tidak pernah peduli terhadap karya atau
aktivitas amal ibadah yang pernah dilakukannya. Al-Quran menyebut
orang yang demikian itu dengan istilah
al-ghofilin, yakni orang yang lalai, lengah, dan tidak sadar terhadap apa yang pernah dilakukan.
Kedua, Nyaris umat Islam malas untuk menyusun program ke depan, baik yang bersifat strategis maupun yang bersifat operasional.
Biasanya kita sangat ahli melakukan perencanaan saat berhubungan
dengan urusan bisnis, namun sebaliknya kita jarang melakukannya kalau
berhubungan dengan urusan iman dan islam kita. Padahal kalau kita
mencermati teladan nabi, nabi Muhammad adalah seorang tokoh perencana
yang mumpuni, ia bersabda dalam haditnya,
“Sesunggunya amal itu tergantung pada niat”. Segala amal itu ditentukan oleh niat, motivasi, atau perencanaan.
Tiga, Apapun kegiatan atau aktivitas akan sulit dikontrol kalau tidak ada perencanaan yang jelas
Sesuai dengan konsep management modern, proses perencanaan dan
kontrol merupakan salah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan agar
mencapai hasil yang optimal.
Lalu bagaimanakah proses Perencanaan dan Evaluasi berdasarkan
perspektif al-Quran, terutama hubungannya dengan momentum Tahun Baru
Islam 1431H?
Untuk menjawab tentang hal ini ada baiknya kita merenungi firman Alloh SWT yang termaktub dalam QS al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk
hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam ayat di atas Alloh SWT dengan jelas dan gamblang memerintahkan
orang yang beriman agar bertaqwa kepada Alloh SWT. Taqwa bisa diartikan
sebagai
god consiousness, yakni seseorang merasa sadar atau
ONLINE kepada Alloh SWT dalam kondisi apapun juga. Saat ia berdiri,
duduk maupun berbaring, sehingga ia akan berhati-hati membentengi diri
dari kesalahan dan dosa.
Selanjutnya Alloh SWT menyatakan bahwa hendaklah setiap jiwa atau
individu melakukan proses evaluasi diri. Perintah proses evaluasi
menggunakan kata
“Tandhur”, mengandung arti melihat dengan penuh seksama, hati-hati, dan konsentrasi dengan menggunakan semua panca indera yang dimiliki.
Jadi , kita sebagai individu diwajibkan melihat dengan panca indra,
akal, hati dan perasaan terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan
(MA). Kata “MA” dalam ayat ini bermakna perbuatan, sifat, amalan,
shodaqoh, ilmu, dan lain sebagainya. Ia bermakna luas mencakup segala
jenis kegiatan.
Lebih lanjut lagi, Alloh SWT menyatakan bahwa evaluasi yang telah dilakukan ini haruslah menjadi
feedback dalam menyusun rencana masa depan agar hidup lebih baik dan berkualitas
(Maximize Action).
Segala kendala yang pernah terjadi, janganlah terulang kembali di
kemudian hari, bagitu pula peluang yang pernah dilalui jangan
sampai mubazir kita manfaatkan.
Beberapa ulama tafsir memberikan penjelasan yang lebih komprehensif
tentang ayat ini, terkait dengan proses evaluasi dan perencanaan, yaitu
sebagai berikut:
- Orang yang beriman dan bertaqwa akan menjadi optimal Iman dan Taqwanya kepada Alloh SWT, manakala ia selalu melakukan instrospeksi diri
- Proses evaluasi hanya efektif kalau didasari oleh iman dan taqwa.
Evaluasi merupakan sistem penilaian. Kalau penilaian ini dilakukan diri
sendiri maka kemungkinan bersifat subjektif. Agar dicapai penilaian
yang objektif atau sportif maka ia harus punya iman dan taqwa.
- Jika ingin mendapatkan penilaian efektif dimasa datang maka ia perlu perencanaan
- Orang iman dan taqwa hanya akan produktif, kalau segala amalan yang dilakukannya berdasarkan perencanaan
- Perencanaan akan memudahkan mencapai tujuan yang hendak dicapai.
- Niat (Perencanaan) memiliki pengaruh signifikan
terhadap kualitas dan kuantitas amalan. Sebab itu ketika nabi hendak
hijrah ke Madinah, dan ditemukan kasus sebagian pemuda yang ikut
berhijrah atas dasar wanita cantik, nabi bersabda. “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat”.
- Alloh SWT akan memberikan bimbingan kepada seseorang yang dalam
melakukan amalan diawali dengan niat atau perencanaan yang baik, untuk mengakses berbagai kemampuan yang sebelumnya belum pernah ia dapati. Nabi bersabda, “Barang
Siapa yang berbuat amalan yang didasari pengetahuan yang baik, maka
Alloh akan membimbing kepada orang untuk untuk memperoleh pengetahuan/
keterampilan baru yang sebelumnya belum ia tahu”.
- Orang yang beriman, bertaqwa, melakukan evaluasi dan perencanaan akan diberikan keberkahan hidup
oleh Alloh SWT. Berkah adalah wujud dari kesejahtreaan. Kebutuhan
hidupnya terpenuhi sesuai dengan waktu, baik berupa kebutuhan fisik,
rasa aman, sosial, harga diri, dan manfaat kepada orang lain. Dan berkah
hidup yang hakikat dan sangat didambakan setiap orang adalah khusnul khotimah.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai pentingnya introspeksi diri
sebagai landasan kita untuk berubah menjadi lebih baik di kemudian hari.
Semoga momentum Tahun baru 1431 H bisa kita manfaatkan semaksimal
mungkin.
(Dikutip dari pengajian malam minggu, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 12 Desember 2009)