Senin, 03 Desember 2012

 Profil Perusahaan

A. IDENTITAS PERUSAHAAN
Nama Perusahaan  :     Perseroan terbatas SUMBER ELEKTRONIKA
Tempat KEdudukan :  Jl.Jaksa Agung Suprapto No.13 Malang 
                                   No.telp +62341-574548 Fax +62341-574547
Akte Pendirian     :      No 2010 Tgl 15 Januaru 2002
                                  akte notaris Tn Wibisono Nyoto Sh di Malang)

N.P.W.P                : No.01.313.414.1.035.000 tanggal 10 Februari 2002
N.P.P.K.P               : No.01.313.414.1.035.000 tanggal 20 Maret 2002


B. BIDANG USAHA
PT  SUMBER ELEKTRONIKA adalah sebuah perusahaan dagang yang didirikan di Malang pada tanggal 15 januaru 2002 . perusahaan bergerak dibidang penjualan barang-barang elektronik yaitu : TV,lemari es dan mesin cuci dengan merk ''LIFES GOOD''


C. PEMBELIAN 
Barang dagangan dibeli secara langsung dari produsen tunggal,yaitu
PT.LIFES GOOD INDONESIA
Jl.Cemoro Sewu No.149 Surabaya
NPWP.01.456.314.6.004.000


D.PEMASARAN
    Pemasaran meliputi wilayah Malang dan sekitarnya, konsumen tetap yabg ada saat ibni antara lain :
   1.PT SARI AGUNG KENCANA 
    JL. Brigjen Slamet Riyadi No. 10 Malang
    N.P.W.P : 01.007.112.9.003.000


2. CV FORSA PERDANA SAKTI 
JL.Surabaya No.25 Malang 
NPWP :01.228.990.7.428.000

3. ERIKA ELECTRONIC
JL.WR.Supratman No.112 Batu
NPWP :01.334.455.7.404.000

Senin, 26 November 2012

Kamera LOMO,,,? nih Sejarah Pembuatannya

Dibalik Pembuatan Kamera LOMO


Agan2 sebagian udah pada tau kamera unik satu ini kan? LOMO pasti kedengeran familiar tuh, di trit ane, agan2 bakal anek ajak jalan2 buat ngintip pabrik kamera LOMO di Russia sana, tempat kelahiran LOMO (Wikipedia red.) tapi ni foto ma pabrik beberapa tahun lalu gan, sekitar 1999-2000
What were you doing in 1999-2000, where have you been? Were you doing Lomography already? Let's take a flashback to where it all began 




Picture



Picture


Picture


Picture


Picture


Picture



Picture


Picture






A. Sejarah
Lomografi adalah sebuah bagian dari fotografi analog yang menggunakan kamera khusus yang disebut dengan kamera LOMO. 
LOMO sendiri merupakan singkatan dari Leningradskoye Optiko-Mechanichesckoye Obyedinenie (Penggabungan Mekanis Optik Leningrad). Nama tersebut merupakan sebuah pabrik lensa yang berada di St. Petersburg, Rusia.
Pabrik tersebut memproduksi lensa untuk alat-alat kesehatan seperti lensa mikroskop, alat-alat persenjataan, dan lensa kamera.
Di Austria, pabrik tersebut menjadi inspirasi bagi sebuah merek dagang komersil untuk produk-produk yang berkaitan dengan fotografi. Merek dagang tersebut bernama Lomographische AG. Kamera lomografi masih menggunakan film gulung sehingga disebut sebagai fotografi analog sedangkan fotografi modern sudah menggunakan teknologi digital dalam pengambilan gambar maupun pengolahannya.
Orang-orang yang menyukai lomografi dan yang suka mengambil foto menggunakan kamera LOMO disebut sebagai "lomografer".

B. Teknik lomografi
Sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang pelopornya, maka lomografi sekarang berkembang menjadi teknik fotografi yang mengabaikan aturan-aturan yang ada.
Dalam teknik fotografi konvensional, banyak aturan baku yang harus dipatuhi seperti kecepatan rana, ISO, dan bukaan lensa untuk menciptakan sebuah foto yang baik.
Sementara itu dalam lomografi aturan-aturan tersebut cenderung untuk diabaikan. Lomografi lebih menekankan untuk menghasilkan foto-foto yang unik sehingga hasilnya pun subyektif.

C. Aturan emas
Komunitas Lomografi merumuskan 10 aturan emas (golden rules) bagi orang-orang yang ingin mengambil gambar menggunakan kamera lomografi. Aturan tersebut adalah:
1. Take your LOMO everywhere you go.
Bawalah kamera Lomo anda kemanapun anda pergi, karena dimana pun anda dapat menemukan obyek foto yang tak terduga.
2. Use it anytime - day or night.
Pakailah kamera Lomo anda tanpa batas. Pakai kamera Lomo anda baik siang maupun malam, kapan saja di berbagai situasi dan kondisi.
3. Lomography is not an interference in your life, but a part of it.
Jadikanlah Lomografi sebagai bagian dari diri anda dan nikmatilah waktu anda memotret suatu obyek dengan kamera Lomo.
4. Shoot from the hip.
5. Approach the objects of your lomographic desire as close as possible.
Dekati obyek foto anda sedekat mungkin selain karena kamera Lomo umumnya tidak ada zoom, harus ada feel tersendiri antara anda dengan obyek foto.
6. Don't think.
Jangan berpikir, gunakan hati dan penglihatan anda.
7. Be fast.
Cepat dalam memotret suatu obyek foto, anda tidak perlu banyak berpikir/berteknik.
8. You don't have to know beforehand what you've captured on film.
Anda tidak perlu terlalu memikirkan gambar seperti apa yang akan anda ambil.
9. You don't have to know afterwards, either.
Anda juga tidak perlu memikirkan bagaimana hasil dari gambar yang telah anda ambil.
10. Don't worry about the rules.
Jangan khawatir tentang aturan-aturan fotografi dan jangan terlalu memikirkannya saat anda menggunakan kamera Lomo.

D. Jenis-jenis kamera lomografi
Lomographic ActionSampler

Kamera ActionSampler akan menghasilkan foto yang terbagi menjadi empat bagian (dua diatas dan dua dibawah) dalam satu kertas foto.

Lomographic Colorsplash Camera

Hasil foto dengan menggunakan kamera jenis colorsplash akan bermain dengan warna. Warna yang tampil difoto belum tentu sesuai dengan warna asli. Kamera ini seringkali digunakan untuk acara di malam hari.

Lomographic Fisheye Camera

Kamera saku dengan lensa mata ikan (fisheye). Cakupan pandangan 170 derajat. Hasil foto berbentuk bulat seperti mata ikan.

Kamera LOMO FISHEYE ada 2 jenis, yang tipe pertama disebut fisheye1, dan tipe kedua atau disebut fisheye2. Beda dari 2 tipe ini adalah, tipe kedua mempunyai viewfinder yang cembung, jadi kita dapat tahu bagaimana hasil gambarnya. Dan juga sudah dibekali dengan mode Bulb dan Multiple Exposure.

Lomographic Frogeye Underwater


Kamera ini tetap dapat digunakan meski di dalam kolam renang/air tanpa casing khusus. Itu sebabnya kamera jenis ini disebut frogeye atau mata katak. Kamera ini sekarang tidak diproduksi lagi (dead stock).

Lomographic SuperSampler

Kamera ini mirip dengan ActionSampler karena kedua kamera tersebut sama-sama menghasilkan foto yang terbagi menjadi empat bagian dalam satu kertas. Namun, hasil dari kamera SuperSampler terbagi menjadi bagian-bagian yang memanjang atau horisontal ataupun vertikal.

Lomographic Oktomat

Dalam 1 kali jepret akan tampil menjadi 8 foto

Lomographic Pop 9

Dengan 1 kali jepret akan tampil menjadi 9 foto kecil dalam 1 lembar foto.

Kamera LOMO saat ini 





Picture


Picture


Picture







Picture 


sekian gan thread yg ane buat, ane harap thread ini dapat nambah wawasan agan2 sekalian.
thanx's ^^

nb: Buat penggemar LOMO ato Lomografer di Tanah Air, berikut ane kasi info ttg kounitas LOMO di Indonesia 


1. lomonesia@yahoogroups.com
2. Facebook: LOMONESIA
3. Twitter: lomonesia
4. Site: lomography society indonesia
5. Multiply: OFFICIAL LOMOGRAPHY SOCIETY INDONESIA

Tahun Baru 1431H sebagai Momentum Introspeksi Diri

introspeksi diriSebentar lagi kita menghadapi tahun baru Islam 1413 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009. Terkait dengan hal ini, sudah selayaknya kita sebagai umat Islam memaknai tahun baru ini sebagai momentum untuk introspeksi dan perbaikan diri di masa depan.  Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah amalan ibadah yang telah kita lakukan selama ini sudah optimal dan sesuai dengan tuntunan Islam? Selanjutnya apa yang akan kita lakukan di masa yang akan datang agar kita menjadi lebih baik lagi.
Proses introspeksi ini sangatlah penting kita lakukan, setidaknya ada tiga hal yang melatarbelakanginya yaitu sebagai berikut:
Pertama, Proses evaluasi merupakan sesuatu yang jarang dilakukan oleh setiap orang
Ketika kita menyambut tahun baru, biasanya kalimat yang terucap ialah ”Walaah ngak tarasa yaah…kok sudah tahun baru lagi…”. Hampir sebagian besar orang Islam tidak pernah peduli terhadap karya atau aktivitas amal ibadah yang pernah dilakukannya. Al-Quran menyebut orang yang demikian itu dengan istilah al-ghofilin, yakni orang yang lalai, lengah, dan tidak sadar terhadap apa yang pernah dilakukan.
Kedua, Nyaris umat Islam malas untuk menyusun program ke depan, baik yang bersifat strategis maupun yang bersifat operasional.
Biasanya kita sangat ahli melakukan perencanaan saat berhubungan dengan urusan bisnis, namun sebaliknya kita jarang melakukannya kalau berhubungan dengan urusan iman dan islam kita. Padahal kalau kita mencermati teladan nabi, nabi Muhammad adalah seorang tokoh perencana yang mumpuni, ia bersabda dalam haditnya, “Sesunggunya amal itu tergantung pada niat”.  Segala amal itu ditentukan oleh niat, motivasi, atau perencanaan.
Tiga, Apapun kegiatan atau aktivitas akan sulit dikontrol kalau tidak ada perencanaan yang  jelas
Sesuai dengan konsep management modern,  proses perencanaan dan kontrol merupakan salah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan agar mencapai hasil yang optimal.
Lalu bagaimanakah proses Perencanaan dan Evaluasi berdasarkan perspektif al-Quran, terutama hubungannya dengan momentum Tahun Baru Islam 1431H?
Untuk menjawab tentang hal ini ada baiknya kita merenungi firman Alloh SWT yang termaktub dalam QS al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam ayat di atas Alloh SWT dengan jelas dan gamblang memerintahkan orang yang beriman agar  bertaqwa kepada Alloh SWT. Taqwa bisa diartikan sebagai god consiousness, yakni seseorang merasa sadar atau ONLINE  kepada Alloh SWT  dalam kondisi apapun juga. Saat ia berdiri, duduk maupun berbaring, sehingga ia akan berhati-hati membentengi diri dari kesalahan dan dosa.
Selanjutnya Alloh SWT menyatakan bahwa hendaklah setiap jiwa atau individu melakukan proses evaluasi diri. Perintah proses evaluasi menggunakan kata “Tandhur”, mengandung arti melihat dengan penuh seksama, hati-hati, dan konsentrasi dengan menggunakan semua panca indera yang dimiliki.
Jadi , kita sebagai individu diwajibkan melihat dengan panca indra, akal, hati dan perasaan terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan (MA). Kata “MA” dalam ayat ini  bermakna perbuatan, sifat, amalan, shodaqoh, ilmu, dan lain sebagainya. Ia bermakna luas mencakup segala  jenis kegiatan.
Lebih lanjut lagi, Alloh SWT menyatakan bahwa evaluasi yang telah dilakukan ini haruslah menjadi feedback dalam menyusun rencana masa depan agar hidup lebih baik dan berkualitas (Maximize Action). Segala kendala yang pernah terjadi, janganlah terulang kembali di kemudian hari, bagitu pula peluang yang pernah dilalui jangan sampai mubazir kita manfaatkan.
Beberapa ulama tafsir memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang ayat ini, terkait dengan proses evaluasi dan perencanaan, yaitu sebagai berikut:
  1. Orang yang beriman dan bertaqwa akan menjadi optimal Iman dan Taqwanya kepada Alloh SWT, manakala ia selalu melakukan instrospeksi diri
  2. Proses evaluasi hanya efektif kalau didasari oleh iman dan taqwa.
    Evaluasi merupakan  sistem penilaian. Kalau penilaian ini dilakukan diri sendiri maka kemungkinan bersifat subjektif. Agar dicapai penilaian yang objektif atau sportif maka ia harus punya iman dan taqwa.
  3. Jika ingin mendapatkan penilaian efektif dimasa datang maka ia perlu perencanaan
  4. Orang iman dan taqwa hanya akan produktif, kalau segala amalan yang dilakukannya berdasarkan perencanaan
  5. Perencanaan akan memudahkan mencapai tujuan yang hendak dicapai.
  6. Niat (Perencanaan) memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas dan kuantitas amalan. Sebab itu ketika nabi hendak hijrah ke Madinah, dan ditemukan kasus sebagian pemuda yang ikut berhijrah atas dasar wanita cantik, nabi bersabda. “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat”.
  7. Alloh SWT akan memberikan bimbingan kepada seseorang yang dalam melakukan amalan diawali dengan niat atau perencanaan yang baik, untuk mengakses berbagai kemampuan yang sebelumnya belum pernah ia dapati. Nabi bersabda, “Barang Siapa yang berbuat amalan yang didasari pengetahuan yang baik, maka Alloh akan membimbing kepada orang untuk untuk memperoleh pengetahuan/ keterampilan baru yang sebelumnya belum ia tahu”.
  8. Orang yang beriman, bertaqwa, melakukan evaluasi dan perencanaan akan diberikan keberkahan hidup oleh Alloh SWT. Berkah adalah wujud dari kesejahtreaan. Kebutuhan hidupnya terpenuhi sesuai dengan waktu, baik berupa kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, harga diri, dan manfaat kepada orang lain. Dan berkah hidup yang hakikat dan sangat didambakan setiap orang adalah khusnul khotimah.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai pentingnya introspeksi diri sebagai landasan kita untuk berubah menjadi lebih baik di kemudian hari. Semoga momentum Tahun baru  1431 H bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin.
(Dikutip dari pengajian malam minggu, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 12 Desember 2009)

Tahun Baru 1431H sebagai Momentum Introspeksi Diri

introspeksi diriSebentar lagi kita menghadapi tahun baru Islam 1413 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009. Terkait dengan hal ini, sudah selayaknya kita sebagai umat Islam memaknai tahun baru ini sebagai momentum untuk introspeksi dan perbaikan diri di masa depan.  Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah amalan ibadah yang telah kita lakukan selama ini sudah optimal dan sesuai dengan tuntunan Islam? Selanjutnya apa yang akan kita lakukan di masa yang akan datang agar kita menjadi lebih baik lagi.
Proses introspeksi ini sangatlah penting kita lakukan, setidaknya ada tiga hal yang melatarbelakanginya yaitu sebagai berikut:
Pertama, Proses evaluasi merupakan sesuatu yang jarang dilakukan oleh setiap orang
Ketika kita menyambut tahun baru, biasanya kalimat yang terucap ialah ”Walaah ngak tarasa yaah…kok sudah tahun baru lagi…”. Hampir sebagian besar orang Islam tidak pernah peduli terhadap karya atau aktivitas amal ibadah yang pernah dilakukannya. Al-Quran menyebut orang yang demikian itu dengan istilah al-ghofilin, yakni orang yang lalai, lengah, dan tidak sadar terhadap apa yang pernah dilakukan.
Kedua, Nyaris umat Islam malas untuk menyusun program ke depan, baik yang bersifat strategis maupun yang bersifat operasional.
Biasanya kita sangat ahli melakukan perencanaan saat berhubungan dengan urusan bisnis, namun sebaliknya kita jarang melakukannya kalau berhubungan dengan urusan iman dan islam kita. Padahal kalau kita mencermati teladan nabi, nabi Muhammad adalah seorang tokoh perencana yang mumpuni, ia bersabda dalam haditnya, “Sesunggunya amal itu tergantung pada niat”.  Segala amal itu ditentukan oleh niat, motivasi, atau perencanaan.
Tiga, Apapun kegiatan atau aktivitas akan sulit dikontrol kalau tidak ada perencanaan yang  jelas
Sesuai dengan konsep management modern,  proses perencanaan dan kontrol merupakan salah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan agar mencapai hasil yang optimal.
Lalu bagaimanakah proses Perencanaan dan Evaluasi berdasarkan perspektif al-Quran, terutama hubungannya dengan momentum Tahun Baru Islam 1431H?
Untuk menjawab tentang hal ini ada baiknya kita merenungi firman Alloh SWT yang termaktub dalam QS al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam ayat di atas Alloh SWT dengan jelas dan gamblang memerintahkan orang yang beriman agar  bertaqwa kepada Alloh SWT. Taqwa bisa diartikan sebagai god consiousness, yakni seseorang merasa sadar atau ONLINE  kepada Alloh SWT  dalam kondisi apapun juga. Saat ia berdiri, duduk maupun berbaring, sehingga ia akan berhati-hati membentengi diri dari kesalahan dan dosa.
Selanjutnya Alloh SWT menyatakan bahwa hendaklah setiap jiwa atau individu melakukan proses evaluasi diri. Perintah proses evaluasi menggunakan kata “Tandhur”, mengandung arti melihat dengan penuh seksama, hati-hati, dan konsentrasi dengan menggunakan semua panca indera yang dimiliki.
Jadi , kita sebagai individu diwajibkan melihat dengan panca indra, akal, hati dan perasaan terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan (MA). Kata “MA” dalam ayat ini  bermakna perbuatan, sifat, amalan, shodaqoh, ilmu, dan lain sebagainya. Ia bermakna luas mencakup segala  jenis kegiatan.
Lebih lanjut lagi, Alloh SWT menyatakan bahwa evaluasi yang telah dilakukan ini haruslah menjadi feedback dalam menyusun rencana masa depan agar hidup lebih baik dan berkualitas (Maximize Action). Segala kendala yang pernah terjadi, janganlah terulang kembali di kemudian hari, bagitu pula peluang yang pernah dilalui jangan sampai mubazir kita manfaatkan.
Beberapa ulama tafsir memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang ayat ini, terkait dengan proses evaluasi dan perencanaan, yaitu sebagai berikut:
  1. Orang yang beriman dan bertaqwa akan menjadi optimal Iman dan Taqwanya kepada Alloh SWT, manakala ia selalu melakukan instrospeksi diri
  2. Proses evaluasi hanya efektif kalau didasari oleh iman dan taqwa.
    Evaluasi merupakan  sistem penilaian. Kalau penilaian ini dilakukan diri sendiri maka kemungkinan bersifat subjektif. Agar dicapai penilaian yang objektif atau sportif maka ia harus punya iman dan taqwa.
  3. Jika ingin mendapatkan penilaian efektif dimasa datang maka ia perlu perencanaan
  4. Orang iman dan taqwa hanya akan produktif, kalau segala amalan yang dilakukannya berdasarkan perencanaan
  5. Perencanaan akan memudahkan mencapai tujuan yang hendak dicapai.
  6. Niat (Perencanaan) memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas dan kuantitas amalan. Sebab itu ketika nabi hendak hijrah ke Madinah, dan ditemukan kasus sebagian pemuda yang ikut berhijrah atas dasar wanita cantik, nabi bersabda. “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat”.
  7. Alloh SWT akan memberikan bimbingan kepada seseorang yang dalam melakukan amalan diawali dengan niat atau perencanaan yang baik, untuk mengakses berbagai kemampuan yang sebelumnya belum pernah ia dapati. Nabi bersabda, “Barang Siapa yang berbuat amalan yang didasari pengetahuan yang baik, maka Alloh akan membimbing kepada orang untuk untuk memperoleh pengetahuan/ keterampilan baru yang sebelumnya belum ia tahu”.
  8. Orang yang beriman, bertaqwa, melakukan evaluasi dan perencanaan akan diberikan keberkahan hidup oleh Alloh SWT. Berkah adalah wujud dari kesejahtreaan. Kebutuhan hidupnya terpenuhi sesuai dengan waktu, baik berupa kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, harga diri, dan manfaat kepada orang lain. Dan berkah hidup yang hakikat dan sangat didambakan setiap orang adalah khusnul khotimah.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai pentingnya introspeksi diri sebagai landasan kita untuk berubah menjadi lebih baik di kemudian hari. Semoga momentum Tahun baru  1431 H bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin.
(Dikutip dari pengajian malam minggu, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 12 Desember 2009)

Tahun Baru 1431H sebagai Momentum Introspeksi Diri

introspeksi diriSebentar lagi kita menghadapi tahun baru Islam 1413 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009. Terkait dengan hal ini, sudah selayaknya kita sebagai umat Islam memaknai tahun baru ini sebagai momentum untuk introspeksi dan perbaikan diri di masa depan.  Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah amalan ibadah yang telah kita lakukan selama ini sudah optimal dan sesuai dengan tuntunan Islam? Selanjutnya apa yang akan kita lakukan di masa yang akan datang agar kita menjadi lebih baik lagi.
Proses introspeksi ini sangatlah penting kita lakukan, setidaknya ada tiga hal yang melatarbelakanginya yaitu sebagai berikut:
Pertama, Proses evaluasi merupakan sesuatu yang jarang dilakukan oleh setiap orang
Ketika kita menyambut tahun baru, biasanya kalimat yang terucap ialah ”Walaah ngak tarasa yaah…kok sudah tahun baru lagi…”. Hampir sebagian besar orang Islam tidak pernah peduli terhadap karya atau aktivitas amal ibadah yang pernah dilakukannya. Al-Quran menyebut orang yang demikian itu dengan istilah al-ghofilin, yakni orang yang lalai, lengah, dan tidak sadar terhadap apa yang pernah dilakukan.
Kedua, Nyaris umat Islam malas untuk menyusun program ke depan, baik yang bersifat strategis maupun yang bersifat operasional.
Biasanya kita sangat ahli melakukan perencanaan saat berhubungan dengan urusan bisnis, namun sebaliknya kita jarang melakukannya kalau berhubungan dengan urusan iman dan islam kita. Padahal kalau kita mencermati teladan nabi, nabi Muhammad adalah seorang tokoh perencana yang mumpuni, ia bersabda dalam haditnya, “Sesunggunya amal itu tergantung pada niat”.  Segala amal itu ditentukan oleh niat, motivasi, atau perencanaan.
Tiga, Apapun kegiatan atau aktivitas akan sulit dikontrol kalau tidak ada perencanaan yang  jelas
Sesuai dengan konsep management modern,  proses perencanaan dan kontrol merupakan salah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan agar mencapai hasil yang optimal.
Lalu bagaimanakah proses Perencanaan dan Evaluasi berdasarkan perspektif al-Quran, terutama hubungannya dengan momentum Tahun Baru Islam 1431H?
Untuk menjawab tentang hal ini ada baiknya kita merenungi firman Alloh SWT yang termaktub dalam QS al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri melperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam ayat di atas Alloh SWT dengan jelas dan gamblang memerintahkan orang yang beriman agar  bertaqwa kepada Alloh SWT. Taqwa bisa diartikan sebagai god consiousness, yakni seseorang merasa sadar atau ONLINE  kepada Alloh SWT  dalam kondisi apapun juga. Saat ia berdiri, duduk maupun berbaring, sehingga ia akan berhati-hati membentengi diri dari kesalahan dan dosa.
Selanjutnya Alloh SWT menyatakan bahwa hendaklah setiap jiwa atau individu melakukan proses evaluasi diri. Perintah proses evaluasi menggunakan kata “Tandhur”, mengandung arti melihat dengan penuh seksama, hati-hati, dan konsentrasi dengan menggunakan semua panca indera yang dimiliki.
Jadi , kita sebagai individu diwajibkan melihat dengan panca indra, akal, hati dan perasaan terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan (MA). Kata “MA” dalam ayat ini  bermakna perbuatan, sifat, amalan, shodaqoh, ilmu, dan lain sebagainya. Ia bermakna luas mencakup segala  jenis kegiatan.
Lebih lanjut lagi, Alloh SWT menyatakan bahwa evaluasi yang telah dilakukan ini haruslah menjadi feedback dalam menyusun rencana masa depan agar hidup lebih baik dan berkualitas (Maximize Action). Segala kendala yang pernah terjadi, janganlah terulang kembali di kemudian hari, bagitu pula peluang yang pernah dilalui jangan sampai mubazir kita manfaatkan.
Beberapa ulama tafsir memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang ayat ini, terkait dengan proses evaluasi dan perencanaan, yaitu sebagai berikut:
  1. Orang yang beriman dan bertaqwa akan menjadi optimal Iman dan Taqwanya kepada Alloh SWT, manakala ia selalu melakukan instrospeksi diri
  2. Proses evaluasi hanya efektif kalau didasari oleh iman dan taqwa.
    Evaluasi merupakan  sistem penilaian. Kalau penilaian ini dilakukan diri sendiri maka kemungkinan bersifat subjektif. Agar dicapai penilaian yang objektif atau sportif maka ia harus punya iman dan taqwa.
  3. Jika ingin mendapatkan penilaian efektif dimasa datang maka ia perlu perencanaan
  4. Orang iman dan taqwa hanya akan produktif, kalau segala amalan yang dilakukannya berdasarkan perencanaan
  5. Perencanaan akan memudahkan mencapai tujuan yang hendak dicapai.
  6. Niat (Perencanaan) memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas dan kuantitas amalan. Sebab itu ketika nabi hendak hijrah ke Madinah, dan ditemukan kasus sebagian pemuda yang ikut berhijrah atas dasar wanita cantik, nabi bersabda. “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat”.
  7. Alloh SWT akan memberikan bimbingan kepada seseorang yang dalam melakukan amalan diawali dengan niat atau perencanaan yang baik, untuk mengakses berbagai kemampuan yang sebelumnya belum pernah ia dapati. Nabi bersabda, “Barang Siapa yang berbuat amalan yang didasari pengetahuan yang baik, maka Alloh akan membimbing kepada orang untuk untuk memperoleh pengetahuan/ keterampilan baru yang sebelumnya belum ia tahu”.
  8. Orang yang beriman, bertaqwa, melakukan evaluasi dan perencanaan akan diberikan keberkahan hidup oleh Alloh SWT. Berkah adalah wujud dari kesejahtreaan. Kebutuhan hidupnya terpenuhi sesuai dengan waktu, baik berupa kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, harga diri, dan manfaat kepada orang lain. Dan berkah hidup yang hakikat dan sangat didambakan setiap orang adalah khusnul khotimah.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai pentingnya introspeksi diri sebagai landasan kita untuk berubah menjadi lebih baik di kemudian hari. Semoga momentum Tahun baru  1431 H bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin.
(Dikutip dari pengajian malam minggu, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 12 Desember 2009)